Sadar Akan Lingkungan Sejahtera Tanpa Merusak

oleh Agustina

 

Global Warming, dua kata yang sangat mengkhawatirkan bagi masyarakat yang memberikan arti yakni pemanasan global (seluruh dunia). Seperti yang kita ketahui bahwa pemanasan global tidak hanya meresahkan masyarakat karena bumi semakin hari semakin memanas bagi manusia tetapi berdampak pula bagi lingkungan alam sekitarnya sehingga lingkungan dan tumbuhan-tumbuhan pun menjadi kering dan tandus. Alam menjadi rusak bagaikan tak berpenghuni.

Aceh khususnya yang kaya akan sumber daya alam pun belum mampu melindungi alam lainnya karena di aceh sumber daya manusianya masih sangat kurang. Oleh karena itu alam dan manusia tak seimbang dalam perputarannya. Hal itu sangat menyedihkan bagi warga aceh sekitarnya karena kekurangan sumber daya manusia di daerah sendiri maka daerah lain dengan mudahnya memasuki wilayah aceh untuk mengambil sumber daya alam yang berlimpah ruah di nanggroe aceh darussalam ini. Para pemimpin pun hanya bisa melihat dan melanjutkan operasional kerjanya seperti biasanya karena tak tahu harus berbuat apa.

Seperti peristiwa yang baru saja terjadi di Banda Aceh  akibat pembukaan lahan baru yang membawa musibah di hutan lindung sare yang terbakar hingga mencapai 20 hektar akibat tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Karena terbakarnya hutan lindung tersebut maka berdampak buruk pula untuk ekosistem dan satwa yang ada di hutan seulawah.

Hutan lindung yang terbakar tersebut merupakan contoh buruk yang lagi-lagi membuat masyarakat harus berhati-hati jika melewati jalur tersebut baik yang beroda dua ataupun beroda empat. Selain itu juga berdampak buruk untuk bumi kita karena semakin gersang lingkungan sekitarnya dan karena pembentukan lahan baru mengapa harus membakar lahan lama yang jelas-jelas tidak mengganggu pembentukan lahan baru?? Seharusnya lahan lama bisa berdampingan dengan lahan baru sebab akan mengembangkan kembali ekosistem yang lebih baik. Dan dengan begitu warga dapat memanfaatkan sumber daya alam tersebut tanpa harus merusak lingkungan. Hutan tersebut bisa menghasilkan nafkah bagi warga asalkan tahu cara pemanfaatannya dan tidak harus merusak karena kita bertanggung jawab untuk melindungi bumi ini agar tetap lestari dan indah serta kita juga dapat memperkenalkan kepada daerah lain bahwa inilah aceh yang sangat lestari dengan sumber daya alamnya yang bisa mensejahterakan masyarakat tanpa harus merusak namun dapat dikembangkan keindahannya meskipun di aceh juga terdapat banyak pabrik-pabrik industri yang kadang kala akibat industri tersebut yang mengharuskan alam yang dijadikan tumbal dalam pengelolaan industri tersebut. Tetapi dengan adanya industri yang berdiri di aceh maka itu membuktikan bahwa sumber daya manusia  di aceh walaupun tidak seluruhnya namun tetap ada yang bisa dimanfaatkan. Dengan berdirinya industri dapat membantu lingkungan sekitar dengan pemanfaatan yang baik pula seperti industri-industri rumah tangga yang membantu masyarakat dalam menyalurkan kekreatifan dan imajinasi masyarakat dalam mengembangkan produk-produk yang mereka ciptakan dalam home industri mereka dengan memanfaatkan sumber-sumber yang ada yang dapat melestarikan lingkungan mereka tinggal tanpa harus merusak alam sekitarnya.

Seperti daerah lain yang kita lihat dalam berita-berita yang selalu mengabarkan bahwa bangunan-bangunan banyak yang habis dilahap dengan si jago merah, banjir terjadi dimana-mana dan peristiwa lainnya yang sangat mengkhawatirkan warga di sekitarnya. Jika kita bayangkan itu terjadi di nanggroe aceh darussalam ini seperti tsunami yang terjadi pada tanggal 24 Desember 2004 lalu maka habislah aceh ini karena peristiwa yang terjadi 6 tahun lalu merupakan bencana alam yang meporak-porandakan aceh bagaikan debu yang tersapu. Dari kejadian itu kita seharusnya bisa berkesimpulan untuk bersama-sama menjaga lingkungan aceh ini agar menjadi lebih baik dan maju kedepannya bukan semakin hancur karena tak dijaga. Bukankah tidak sulit untuk menjaga dan melestarikan lingkungan yang kita tempati? Jawaban yang tepat pada umumnya tidaklah sulit namun tidak ada yang bergerak untuk mencapainya karena orang-orang hanya sibuk dengan apa yang ingin dicapainya secara individualis bukan untuk kesejahteraan sosialisnya. Rasa individual lebih besar dibandingkan dengan rasa sosial dan solidaritasnya apalagi terhadap lingkungannya sendiri belum tentu masyarakat peduli. Seperti dilakukannya gerakan penghijauan untuk kesejukan alam sekitarnya saja belum semua partisipasi masyarakat dan pemerintah mengambil andil dalam gerakan tersebut yang sangat jelas manfaatnya untuk alam kita ini dan hidup pun menjadi sejahtera dan makmur tanpa merusak alam meskipun dari alam kita mengolahnya untuk mencari nafkah. Langkah go green adalah langkah yang sangat baik dalam global warming karena dengan langkah tersebut dapat membantu alam dan lingkungan untuk tetap terjaga namun jangan sampai berlebihan pula karena akan berbahaya nantinya jika dengan penghijauan dapat mengikis seluruh isi alam. Bukan seperti itu pula. Sebab penghijauan adalah salah satu kegiatan penting yang harus dilaksanakan secara konseptual dalam menangani kritis lingkungan. Penghijauan dalam arti luas adalah segala daya untuk memulihkan, memelihara dan meningkatkan kondisi lahan agar dapat berproduksi dan berfungsi secara optimal baik sebagai pengatur tata air atau pelindung lingkungan. Peran penghijauan sangat penting untuk lingkungan kita agar terciptanya lingkungan hidup yang sehat. Peran penghijauan sebagai paru-paru kota karena pada pertumbuhannya menghasilkan zat asam O2 yang sangat diperlukan bagi makhluk hidup untuk pernapasan, penghijauan juga sebagai pengatur lingkungan  karena vegetasi akan menimbulkan hawa lingkungan menjadi sejuk, nyaman dan segar, selain itu peran penghijauan juga sebagai pencipta lingkungan hidup (ekologis), penyeimbangan alam yang merupakan pembentukan tempat-tempat hidup alam bagi satwa yang hidup disekitarnya, perlindungan terhadap kondisi fisik alami sekitarnya (seperti angin kencang, terik matahari, gas atau debu-debu), penghijauan juga memberikan keindahan dan kesehatan bagi kita semuanya.

Dari perannya saja penghijauan sangat bermanfaat untuk kesejahteraan hidup kita namun mengapa tidak ada yang bergerak hingga saat ini? Jawabannya ada pada masing-masing individunya.

Masyarakat bisa menjaga lingkungan tanpa harus merusak lingkungan tersebut melalui program pengurangan resiko bencana berbasis masyarakat, warga sebenarnya dapat berperan dalam mengurangi resiko bencana sesuai dengan kondisi wilayah daerah masing-masing. Mereka dapat membuat peta kerawanan, mengidentifikasi daerah-daerah yang aman atau tidak dan mengusulkan sarana dan prasarana apa yang dibutuhkan untuk daerahnya agar tidak harus mengambil apa yang ada di lingkungan tapi dapat dijaga lingkungan tersebut agar hidup bisa sejahtera dan makmur. Mari kita mulai bersama-sama untuk melestarikan lingkungan dan daerah yang kita cintai ini agar selalu asri dan hidup menjadi sehat dan sejahtera untuk kita sendiri mulai dari sekarang, seperti kata-kata GusDur itu aja kok repot .

 

Leave a comment »

Masuknya Islam Ke Indonesia

BAB 1

PENDAHULUAN

Dewasa ini kedudukan ilmu sejarah, khususnya sejarah Islam mendapat perhatian yang kurang di Indonesia. Bahkan, urgensi dari mempelajari sejarah mulai banyak yang mempertanyakan kembali. Di sisi lain, sejarah Islam di Indonesia yang dikemukakan oleh para ahli sejarah selama ini masih debatable. Buku-buku yang ditulis oleh beberapa peneliti sejarah Islam di Indonesia terkadang saling berseberangan satu sama lain pendapatnya, misal: perbedaan tentang asal negara para pedagang Islam yang membawa serta menyebarkan Islam pertama kali diIndonesia ada yang mengatakan berasal dari Arab, ada juga yang mengatakan berasal dariPersia dan ada juga dariIndia.

Berbeda dengan pembabakan sejarah dunia Islam yang sudah cukup mapan, periodisasi sejarah Islam di Indonesia belum begitu jelas. Hal ini terutama karena karya-karya sejarah Islam di Indonesia yang memaparkan secara lengkap masih sangat langka. Karya sejarah Islam yang dapat dikatakan lengkap dan menyeluruh adalah karya Hamka, Sejarah Umat Islam, jilid IV; karya Uka Tjandrasasmita (Ed.), Sejarah Nasional III, dan Taufik Abdullah (Ed.), Sejarah Umat Islam Indonesia. Historiografi Islam di Indonesia memang masih dalam perkembangan awal (Yatim, 2008: 6).

Sebagai seorang muslimIndonesiasudah seyogyanya kita mengetahui lebih dalam mengenai sejarah Islam yang  ada diIndonesiadengan cara terus mengkaji sumber-sumber sejarah yang sudah ada maupun dengan mencari dan meneliti sumber-sumber sejarah yang belum ditemukan. Makalah ini akan membahas secara garis-garis besar tentang sejarah penyebaran Islam di Indoesia. Sebenarnya penulis ingin sekali membahas panjang lebar tentang sejarah Islam di Indonesia, tetapi karena alasan tertentu penulis hanya membahas poin-poin yang dianggap penting saja. Berikut ini diuraikan beberapa hal tentang sejarah penyebaran Islam di Indonesia.

BAB 11

PEMBAHASAN

1) Proses Masuk dan Berkembangnya Agama dan Kebudayaan Islam

    di Indonesia

Islam berkembang lewat perantaraan bahasa Arab.Kontak antara Islam dengan kepulauan nusantara sebagian besar berlangsung di wilayah pesisir pantai. Utamanya lewat proses perdagangan antara penduduk lokal dengan para pedagang bangsaPersia, Arab, dan India Gujarat. Kontak-kontak ini, pada perkembangannya, memunculkan proses akulturisasi budaya. Islam kemudian muncul sebagai “competing” culture Hindu-Buddha. Terdapat berbagai pendapat dan teori yang mngemukakan proses masuknya Islam keIndonesia. Selain itu juga masing-masing pendapat menggunakan berbagai sumber, baik dari arkeologi, ataupun beberapa tulisan dari berbagai sumber. Diantaranya adalah sebagai berikut:

Beberapa Pendapat Tentang Awal Masuknya Islam di Indonesia

   1.   Islam Masuk ke Indonesia Pada Abad ke 7

Masuknya Islam di Indonesia (di Aceh), sebagian dasar adalah catatan perjalanan Al mas’udi, yang menyatakan bahwa pada tahun 675 M, terdapat utusan dari raja Arab Muslim yang berkunjung ke Kalingga. Pada tahun 648 diterangkan telah ada koloni Arab Muslim di pantai timur Sumatera.

Dari Harry W. Hazard dalam Atlas of Islamic History (1954), diterangkan bahwa kaum Muslimin masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M yang dilakukan oleh para pedagang muslim yang selalu singgah di sumatera dalam perjalannya ke China.

Prof. S. muhammmad Huseyn Nainar, dalam makalah ceramahnya berjudul Islam di India dan hubungannya dengan Indonesia, menyatakan bahwa beberapa sumber tertulis menerangkan kaum Muslimin India pada tahun 687 sudah ada hubungan dengan kaum muslimin Indonesia.

W.P. Groeneveld dalam Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled From Chinese sources, menjelaskan bahwa pada Hikayat Dinasti T’ang memberitahukan adanya Aarb muslim berkunjung ke Holing (Kalingga, tahun 674). (Ta Shih = Arab Muslim).

T.W. Arnold dalam buku The Preching of Islam a History of The Propagation of The Moslem Faith, menjelaskan bahwa Islam datang dari Arab ke Indonesia pada tahun 1 Hijriyah (Abad 7 M).

     2.  Islam Masuk Ke Indonesia pada Abad ke-11:

Diketemukannya makam panjang di daerah Leran Manyar, Gresik, yaitu makam Fatimah Binti Maimun dan rombongannya.Pada makam itu terdapat prasati huruf Arab Riq’ah yang berangka tahun (dimasehikan 1082M).

     3.  Islam Masuk Ke Indonesia Pada Abad Ke-13:

Teori lain seputar masuknya Islam dari Timur Tengah ke nusantara diajukan Supartono Widyosiswoyo. Menurutnya, proses masuknya Islam tersebut dapat dibagi ke dalam 3 gelombang yaitu : Jalur Utara, Jalur Tengah, dan Jalur Selatan. Ketiga gelombang ini didasarkan pada pangkal wilayah persebaran Islam yang memasukiIndonesia.

Jalur Utara adalah proses masuknya Islam dariPersiadanMesopotamia. Darisana, Islam beranjak ke timur lewat jalur daratAfganistan,Pakistan, Gujarat, lalu menempuh jalur laut menujuIndonesia. Lewat Jalur Utara ini, Islam tampil dalam bentuk barunya yaitu aliran Tasawuf.Dalam aliran ini, Islam dikombinasikan dengan penguatan pengalaman personal dalam pendekatan diri terhadap Tuhan.Aliran inilah yang secara cepat masuk dan melakukan penyebaran penganut baru Islam di nusantara.Aceh merupakah salah satu basis persebaran Islam Jalur Utara ini.

Jalur Tengah adalah proses masuknya Islam dari bagian barat lembah Sungai Yordan dan bagian timur semenanjungArabia(Hadramaut). Dari sini Islam menyebar dalam bentuknya yang relatif asli, di antaranya adalah aliran Wahabi. Pengaruh terutama cukup mengena di wilayah Sumatera Barat.Ini dapat terjadi oleh sebab dari Hadramaut perjalanan laut dapat langsung sampai ke pantai barat pulau Sumatera.

Jalur Selatan pangkalnya adalah di wilayah Mesir.Saat itu Kairo merupakan pusat penyiaran agama Islam yang modern dan Indonesiamemperoleh pengaruh tertama dalam organisasi keagamaan yang disebut Muhammadiyah.Kegiatan lewat jalur ini terutama pendidikan, dakwah, dan penentangan bid’ah.

2) Pembawa Islam ke Indonesia

Sebelum pengaruh Islam masuk ke Indonesia, di kawasan Indonesia sudah terdapat kontak-kontak dagang, baik dari Arab, Persia, India dan China. Islam secara akomodatif, akulturasi, dan sinkretis merasuk dan punya pengaruh dari arab, Persia, India dan China. Melalui perdagangan itulah Islam masuk ke kawasan Indonesia.Dengan demikian bangsa Arab, Persia, India dan china punya andil melancarkan perkembangan Islam di kawasan Indonesia. MenurutAhmad Mansur Suryanegara dalam bukunya yang berjudul Menemukan Sejarah, terdapat 3 teori yaitu teori Gujarat, teori Makkah dan teori Persia. Ketiga teori tersebut juga menjelaskan tentang permasalahan waktu masuknya Islam ke Indonesia, asal negara dan tentang pelaku penyebar atau pembawa agama Islam ke Nusantara.

  1. Teori Gujarat

Teori ini berpendapat bahwa agama Islam masuk ke Indonesia pada abad 13 dan      pembawanya berasal dari Gujarat (Kambay), India. Dasar dari teori ini adalah   kurangnya fakta yang menjelaskan peranan bangsa Arab dalam penyebaran Islam di Indonesia. Hubungan dagang Indonesia dengan India telah lama melalui jalur Indonesia Kambay – Timur Tengah – Eropa.Adanya batu nisan Sultan Samudra Pasai yaitu Malik Al Saleh tahun 1297M yang bercorak khas Gujarat. Adanya batu nisan Malik Ibrahim Tahun 1419 di Gresik Jawa Timur danbeberapa batu nisan di Pasai dipercaya telah diimpor dari Kambay-Gujarat.Pendukung teori Gujarat adalah Snouck Hurgronye, WF Stutterheim dan BernardH.M. Vlekke.Para ahli yang mendukung teori Gujarat, lebih memusatkan perhatiannya pada saat timbulnya kekuasaan politik Islam yaitu adanya kerajaan Samudra Pasai.

Hal ini juga bersumber dari keterangan Marcopolo dari Venesia (Italia) yang pernahsinggah di Perlak ( Perureula) tahun 1292. Ia menceritakan bahwa di Perlak sudah banyak penduduk yang memeluk Islam dan banyak pedagang Islam dari India yang menyebarkan ajaran Islam.

     2. Teori Makkah

Teori ini merupakan teori baru yang muncul sebagai sanggahan terhadap teori lamayaitu teori Gujarat.

Teori Makkah berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 7 dan pembawanya berasal dari Arab (Mesir).Dasar teori ini adalah pada abad ke 7 yaitu tahun 674 di pantai barat Sumatera sudah terdapatperkampungan Islam (Arab); dengan pertimbangan bahwa pedagang Arab sudah mendirikan perkampungan di Kanton sejak abad ke-4. Hal ini juga sesuai denganberita Cina. Kerajaan Samudra Pasai menganut aliran mazhab Syafi’i, dimana pengaruhmazhab Syafi’i terbesar pada waktu itu adalah Mesir dan Mekkah. SedangkanGujarat/India adalah penganut mazhab Hanafi.Raja-raja Samudra Pasai menggunakan gelar Al malik, yaitu gelar tersebut berasal dari Mesir. Pendukung teori Makkah ini adalah Hamka, Van Leur dan T.W. Arnold. Para ahliyang mendukung teori ini menyatakan bahwa abad 13 sudah berdiri kekuasaan politikIslam, jadi masuknya ke Indonesia terjadi jauh sebelumnya yaitu abad ke 7 dan yang berperan besar terhadap proses penyebarannya adalah bangsa Arab sendiri.

     3. Teori Persia

Teori ini berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia abad 13 dan pembawanyaberasal dari Persia (Iran).Dasar teori ini adalah kesamaan budaya Persia dengan budaya masyarakat Islam Indonesia seperti peringatan 10 Muharram atau Asyura atas meninggalnya Hasan dan Huseincucu Nabi Muhammad, yang sangat di junjung oleh orang Syiah/Islam Iran. Di Sumatra Barat peringatan tersebut disebut dengan upacara Tabuik/Tabut. Sedangkan di pulau Jawa ditandai dengan pembuatan bubur Syuro.Kesamaan ajaran Sufi yang dianut Syaikh Siti Jennar dengan sufi dari Iran yaitu Al – Hallaj.Penggunaan istilah bahasa Iran dalam sistem mengeja huruf Arab untuk tandatandabunyi Harakat. Ditemukannya makam Maulana Malik Ibrahim tahun 1419 di Gresik. Adanya perkampungan Leren/Leran di Giri daerah Gresik. Leren adalah namasalah satu Pendukung teori ini yaitu Umar Amir Husen dan P.A. Hussein Jayadiningrat.

Ketiga teori tersebut, pada dasarnya masing-masing memiliki kebenaran dankelemahannya.Maka itu berdasarkan teori tersebut dapatlah disimpulkan bahwaIslammasuk ke Indonesia dengan jalan damai pada abad ke – 7 dan mengalamiperkembangannya pada abad 13.Sebagai pemegang peranan dalam penyebaranIslamadalah bangsa Arab, bangsa Persia dan Gujarat (India).

    3) Proses Penyebaran Islam di Indonesia

Pada tahun 1345 dan 1346 M Musafir Maroko Ibnu Batuta, melewati Samudra dalam perjalanannnya ke dan dari Cina mendapati penguasanya adalah pengikut mazhab fikih Syafi’I, hal ini menandakan bahwa mazhab-mazhab yang kelak mendominasi Indonesia sudah ada sejak awal, dan tidak menutup kemungkinan ketiga mazhab Sunni lainnya (Hanafi,Maliki dan Hanbali) juga sudah ada pada masa itu. Di akhir abad XIV menurut M.C. Ricklefs penyebaran Islam terus berlangsung dengan ditemukannya dua buah batu nisan dari Minye Tujoh di Sumatera Utara yang memmbuktikan adanya peralihan budaya disana, kedua batu itu ada yang bertuliskan bahasa arab dan Melayu dengan huruf Sumatera Kuno tetapi tetap memuat tentang Islam.Tahun yang tertera pada prasasti tersebut berbeda antara satu dengan yang lainnya, (781H dan 791H/ 1830 dan 1389M) yang sama-sama menunjukkan tahun kematian seorang putri almarhum Sultan Malik as-Zahir.

Proses penyebaran Islam di Indonesia atau proses Islamisasi tidak terlepas dariperanan para pedagang, mubaliqh/ulama, raja, bangsawan atau para adipati. Di pulau Jawa, peranan mubaliqh dan ulama tergabung dalam kelompok para wali yang dikenal dengan sebutan Walisongo atau wali sembilan yang terdiri dari:

1. Maulana Malik Ibrahim dikenal dengan nama Syeikh Maghribi menyebarkan Islamdi Jawa Timur.

2. Sunan Ampel dengan nama asli Raden Rahmat menyebarkan Islam di daerah Ampel Surabaya.

3. Sunan Bonang adalah putra Sunan Ampel memiliki nama asli Maulana Makdum

Ibrahim, menyebarkan Islam di Bonang (Tuban).

4. Sunan Drajat juga putra dari Sunan Ampel nama aslinya adalah Syarifuddin,

menyebarkan Islam di daerah Gresik/Sedayu.

5. Sunan Giri nama aslinya Raden Paku menyebarkan Islam di daerah Bukit Giri

(Gresik)

6. Sunan Kudus nama aslinya Syeikh Ja’far Shodik menyebarkan ajaran Islam di

daerah Kudus.

7. Sunan Kalijaga nama aslinya Raden Mas Syahid atau R. Setya menyebarkan

ajaran Islam di daerah Demak.

8. Sunan Muria adalah putra Sunan Kalijaga nama aslinya Raden Umar Syaid

menyebarkan islamnya di daerah Gunung Muria.

9. Sunan Gunung Jati nama aslinya Syarif Hidayatullah, menyebarkan Islam di

Jawa Barat (Cirebon)

Demikian sembilan wali yang sangat terkenal di pulau Jawa, Masyarakat Jawa sebagian memandang para wali memiliki kesempurnaan hidup dan selalu dekatdengan Allah, sehingga dikenal dengan sebutan Waliullah yang artinya orang yang dikasihi Allah.

  4)  Munculnya Kerajaan-Kerajaan Islam

   a. Kerajaan Perlak

Perlak adalah kerajaan Islam tertua di Indonesia. Perlak adalah sebuah kerajaan dengan masa pemerintahan cukup panjang. Kerajaan yang berdiri pada tahun 840 ini berakhir pada tahun 1292 karena bergabung dengan Kerajaan Samudra Pasai. Sejak berdiri sampai bergabungnya Perlak dengan Samudrar Pasai, terdapat 19 orang raja yang memerintah. Raja yang pertama ialah Sultan Alaidin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah (225 – 249 H / 840 – 964 M). Sultan bernama asli Saiyid Abdul Aziz pada tanggal 1 Muhharam 225 H dinobatkan menjadi Sultan Kerajaan Perlak. Setelah pengangkatan ini, Bandar Perlak diubah menjadi Bandar Khalifah.

Kerajaan ini mengalami masa jaya pada masa pemerintahan Sultan Makhdum Alaidin Malik Muhammad Amin Syah II Johan Berdaulat (622-662 H/1225-1263 M). Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Perlak mengalami kemajuan pesat terutama dalam bidang pendidikan Islam dan perluasan dakwah Islamiah. Sultan mengawinkan dua putrinya: Putri Ganggang Sari (Putri Raihani) dengan Sultan Malikul Saleh dari Samudra Pasai serta Putri Ratna Kumala dengan Raja Tumasik (Singapura sekarang). Perkawinan ini dengan parameswara Iskandar Syah yang kemudian bergelar Sultan Muhammad Syah. Sultan Makhdum Alaidin Malik Muhammad Amin Syah II Johan Berdaulat kemudian digantikan oleh Sultan Makhdum Alaidin Malik Abdul Aziz Syah Johan Berdaulat (662-692 H/1263-1292 M). Inilah sultan terakhir Perlak. Setelah beliau wafat, Perlak disatukan dengan Kerajaan Samudra Pasai dengan raja Muhammad Malikul Dhahir yang adalah Putra Sultan Malikul Saleh dengan Putri Ganggang Sari. Perlak merupakan kerajaan yang sudah maju. Hal ini terlihat dari adanya mata uang sendiri. Mata uang Perlak yang ditemukan terbuat dari emas (dirham), dari perak (kupang), dan dari tembaga atau kuningan.

b. Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan ini didirikan oleh Sultan Malik Al-saleh dan sekaligus sebagai raja pertama pada abad ke-13. Kerajaan Samudera Pasai terletak di sebelah utara Perlak di daerah Lhokseumawe sekarang (pantai timur Aceh). Sebagai sebuah kerajaan, raja silih berganti memerintah di Samudra Pasai. Raja-raja yang pernah memerintah Samudra Pasai adalah seperti berikut.

(1) Sultan Malik Al-saleh berusaha meletakkan dasar-dasar kekuasaan Islam dan berusaha mengembangkan kerajaannya antara lain melalui perdagangan dan memperkuat angkatan perang. Samudra Pasai berkembang menjadi negara maritim yang kuat di Selat Malaka.

(2) Sultan Muhammad (Sultan Malik al Tahir I) yang memerintah sejak 1297-1326. Pada masa pemerintahannya Kerajaan Perlak kemudian disatukan dengan Kerajaan Samudra Pasai.

(3) Sultan Malik al Tahir II (1326 – 1348 M). Raja yang bernama asli Ahmad ini sangat teguh memegang ajaran Islam dan aktif menyiarkan Islam ke negeri-negeri sekitarnya. Akibatnya, Samudra Pasai berkembang sebagai pusat penyebaran Islam. Pada masa pemerintahannya, Samudra Pasai memiliki armada laut yang kuat sehingga para pedagang merasa aman singgah dan berdagang di sekitar Samudra Pasai. Namun, setelah muncul Kerajaan Malaka, Samudra Pasai mulai memudar. Pada tahun 1522 Samudra Pasai diduduki oleh Portugis. Keberadaan Samudra Pasai sebagai kerajaan maritim digantikan oleh Kerajaan Aceh yang muncul kemudian.

Catatan lain mengenai kerajaan ini dapat diketahui dari tulisan Ibnu Battuta, seorang pengelana dari Maroko. Menurut Battuta, pada tahun 1345, Samudera Pasai merupakan kerajaan dagang yang makmur. Banyak pedagang dari Jawa, Cina, dan India yang datang ke sana. Hal ini mengingat letak Samudera Pasai yang strategis di Selat Malaka. Mata uangnya uang emas yang disebur dirham.

Di bidang agama, Samudera Pasai menjadi pusat studi Islam. Kerajaan ini menyiarkan Islam sampai ke Minangkabau, Jambi, Malaka, Jawa, bahkan ke Thailand. Dari Kerajaan Samudra Pasai inilah kader-kader Islam dipersiapkan untuk mengembangkan Islam ke berbagai daerah. Salah satunya ialah Fatahillah. Ia adalah putra Pasai yang kemudian menjadi panglima di Demak kemudian menjadi penguasa di Banten.

c. Kerajaan Aceh

Kerajaan Islam berikutnya di Sumatra ialah Kerajaan Aceh. Kerajaan yang didirikan oleh Sultan Ibrahim yang bergelar Ali Mughayat Syah (1514-1528), menjadi penting karena mundurnya Kerajaan Samudera Pasai dan berkembangnya Kerajaan Malaka. Para pedagang kemudian lebih sering datang ke Aceh. Pusat pemerintahan Kerajaan Aceh ada di Kutaraja (Banda Acah sekarang). Corak pemerintahan di Aceh terdiri atas dua sistem pemerintahan sipil di bawah kaum bangsawan, disebut golongan teuku; dan pemerintahan atas dasar agama di bawah kaum ulama, disebut golongan tengku atau teungku.

Sebagai sebuah kerajaan, Aceh mengalami masa maju dan mundur. Aceh mengalami kemajuan pesat pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607- 1636). Pada masa pemerintahannya, Aceh mencapai zaman keemasan. Aceh bahkan dapat menguasai Johor, Pahang, Kedah, Perak di Semenanjung Melayu dan Indragiri, Pulau Bintan, dan Nias. Di samping itu, Iskandar Muda juga menyusun undang-undang tata pemerintahan yang disebut Adat Mahkota Alam. Setelah Sultan Iskandar Muda, tidak ada lagi sultan yang mampu mengendalikan Aceh. Aceh mengalami kemunduran di bawah pimpinan Sultan Iskandar Thani (1636- 1641). Dia kemudian digantikan oleh permaisurinya, Putri Sri Alam Permaisuri (1641- 1675). Sejarah mencatat Aceh makin hari makin lemah akibat pertikaian antara golongan teuku dan teungku, serta antara golongan aliran syiah dan sunnah sal jama’ah. Akhirnya, Belanda berhasil menguasai Aceh pada tahun 1904.

Dalam bidang sosial, letaknya yang strategis di titik sentral jalur perdagangan internasional di Selat Malaka menjadikan Aceh makin ramai dikunjungi pedangang Islam. Terjadilah asimilasi baik di bidang sosial maupun ekonomi. Dalam kehidupan bermasyarakat, terjadi perpaduan antara adat istiadat dan ajaran agama Islam. Pada sekitar abad ke-16 dan 17 terdapat empat orang ahli tasawuf di Aceh, yaitu Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumtrani, Nuruddin ar-Raniri, dan Abdurrauf dari Singkil. Keempat ulama ini sangat berpengaruh bukan hanya di Aceh tetapi juga sampai ke Jawa.

Dalam kehidupan ekonomi, Aceh berkembang dengan pesat pada masa kejayaannya. Dengan menguasai daerah pantai barat dan timur Sumatra, Aceh menjadi kerajaan yang kaya akan sumber daya alam, seperti beras, emas, perak dan timah serta rempah-rempah.

BAB 111

PENUTUP

Kesimpulan

Berbeda dengan masuknya Islam ke negara-negara di bagian dunia lainnya yakni dengan kekuatan militer, masuknya Islam ke Indonesia dengan cara damai disertai dengan jiwa toleransi dan saling menghargai antara penyebar dan pemeluk agama baru (Islam) dengan penganut-penganut agama lama (Hindu-Budha). Islam di Indonesia dibawa oleh pedagang Arab, Gujarat dan Persia yang tertarik dengan rempah-rempah. Sambil berdagang mereka juga membawa dan menyebarkan ajaran agama Islam. Pada awalnya, agama Islam berkembang di daerah pesisir, yang selanjutnya menyebar ke daerah-daerah pedalaman. Memang sangat sulit menentukan secara pasti pada tahun berapa dan berasal dari negara mana pertama kali Islam masuk ke Indonesia, tetapi kebanyakan para sejarawan berpendapat Islam pertama kali masuk pada abad pertama Hijriah atau abad ketujuh Masehi. Pendapat ini didasarkan pada penemuan batu nisan wanita muslimah yang bernama Fatimah binti Maimun  di Leran (Gresik) yang bertahun 475 H atau 1082 M. Kedatangan Islam ke berbagai daerah di Indonesia yang tidak bersamaan membuat para peniliti sejarah sulit menentukan periodisasi sejarah Islam di Indonesia. Mereka juga sulit menentukan pembabakan sejarah  Islam yang ada di Indonesia karena wilayahnya cukup luas sehingga perkembangan sejarah antara satu daerah dengan daerah yang lain berbeda-beda. Maka tidaklah aneh apabila para peneliti sejarah Islam dalam karya sejarahnya mengemukakan pendapat yang kadang saling berseberangan satu sama lain.

Saran

Sebagai seorang muslim Indonesia sudah seyogyanya kita mengetahui lebih dalam mengenai sejarah Islam yang  ada di Indonesia dengan cara terus mengkaji sumber-sumber sejarah yang sudah ada maupun dengan mencari dan meneliti sumber-sumber sejarah yang belum ditemukan dan marilah kita menjaga islam ini agar tidak terpecah belah.

DAFTAR PUSTAKA

 

Hakim, Nur. 2004. Sejarah dan Peradaban Islam. Malang: UMM Press

Hamka, 1990. Sejarah Umat Islam. Jakarta: Pustaka Panjimas

Pradito, Aryo. 2002. Sejarah: Untuk Siswa SMA Kelas X Semerter Genap. Klaten: CV Viva Pakarindo

Yatim, Badri. 2008.   Sejarah Peradaban Islam: Dirasah II.Jakarta: Rajawali

 

Leave a comment »

Akibat Kurangnya Sosialisasi Terhadap Media dan Pornografi

oleh : agoestina

Kepentingan ekonomis menguatkan era komunikasi dan informasi. Peran media pun sangat dibutuhkan didalamnya. Era komunikasi memberikan peluang bagi perkembangan media. Media diciptakan oleh manusia namun saat ini media yang memperalat manusia. Media merupakan alat-alat grafis, foto grafis atau elektronis untuk menangkap, memproses dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.

Menurut kamus bahasa Indonesia media yaitu alat atau sarana komunikasi. Apa yang kita komunikasikan? Sebenarnya banyak sekali, namun lebih cenderung kepada informasi dan ilmu pengetahuan. Karena semakin hari teknologi semakin canggih dan maju maka muncullah jaringan elektronik yang dikenal sekarang dengan internet secara komersial oleh American Samuel F.B Morse pada tahun 1844 kemudian disusul The Associated Press yang memperkenalkan pelayanan melalui jaringan elektronik untuk pertama kalinya pada tahun 1844 yang menjadi pelopor apa yang kita kenal dengan www (world wide web) sekarang ini.

Dengan adanya ditemukannya web tersebut maka dengan mudahnya orang-orang mencari infomasi tanpa batas. Namun ada juga orang-orang yang menyalahgunakan pemakaian internet tersebut untuk melihat hal-hal yang tak seharusnya dilihat namun dilanggar dan itu sangat berbahaya bagi anak-anak yang dibawah umur yang sudah pintar dalam menggunakan layanan internet. Ditambah lagi dengan adanya mesin pencari seperti google yang bisa mengakses jaringan kemana saja dan makin mempermudah bagi orang-orang yang ingin membuka situs-situs porno dan lain sebagainya.

Bagi anak-anak khususnya sebelum mereka mengenal internet alangkah lebih baiknya bagi seorang guru atau orang tua memberikan pendidikan dan pembinaan seperti sosialisasi kepada mereka anak-anaknya agar tidak terjadi hal-hal yang menyimpang. Namun sosialisasi itu bisa gagal dikarenakan orang tua ataupun guru tersebut gaptek (gagap teknologi). Atau bisa saja guru atau orangtua tersebut memang memberikan kebebasan kepada anak-anaknya untuk berkarya dengan menggunakan internet agar orang tua atau gurunya bisa menghilangkan kesan gaptek tersebut di depan anak-anak atau siswa-siswanya.

Karena tidak adanya sosialisasi tersebut maka dapat menimbulkan hal-hal seperti :

  1. Kurangnya pengawasan, pendidikan dan pembinaan dari guru atau orang tua terhadap anak-anak atau siswa-siswa tentang bagaimana penggunaan internet yang sehat, manfaat internet dan dampak negatif seta cara menghindarinya.
  2. Seorang anak pasti memiliki rasa penasaran dan ingin tahu yang besar maka dengan begitu ia akan mencoba dengan membuka situs-situs porno di internet karena guru disekolahnya tidak terbuka akan hal seks educationnya maka dengan itulah anak-anak mencari jalan pintas dengan membuka internet.
  3. Seperti yang telah dijelaskan diatas karena mungkin saja guru atau orangtua nya yang gaptek maka guru atau orangtua sendiri tidak tahu harus memberikan pembinaan apa terhadap anak-anaknya.
  4. Kurangnya proteksi software untuk memblokir situs-situs porno.
  5. Membuka keuntungan finansial bagi warnet-warnet.
  6. Hal yang sangat utama adalah murahnya biaya untuk mengakses situs-situs tersebut.

Akibatnya dari semua itu kontrol sosial menjadi berkurang terhadap pornografi. Menurut Ike R. Sugianto, seorang psikolog mengatakan bahwa efek psikologis pornografi dari internet bagi anak sangat memicu perkembangan kelainan seksual mereka. Anak yang mengenal pornografi sejak dini cenderung menjadi antisosial, tidak setia, melakukan kekerasan dalam rumah tangga, tidak sensitif, memicu kelainan seksual, dan menimbulkan kecanduan mengakses internet terutama pada situs game dan porno.

Seperti yang kita ketahui bahwa larangan pornografi sudah tercantum di dalam KUHP, UU No 8/1992 tentang perfilman, UU No 36/1999 tentang telekomunikasi, UU No 40/1999 tentang pers dan UU No 32/2002 tentang penyiaran. Namun aplikasinya tidak berjalan karena adanya kelemahan dan kekurangan pada substansinya yaitu perumusan melanggar kesusilaan yang bersifat abstrak. Oleh karena itu situs-situs porno tidak dapat dihentikan begitu saja karena pada implementasinya pornografi telah melekat pada diri media dan jejaring sosial lainnya. Namun sosialisasi tetap harus dilakukan.

Leave a comment »

Stres Pada Para Mahasiswa

oleh : agoestina

Pada akhir-akhir ini gangguan stres banyak dibicarakan, sehingga seakan-akan merupakan bencana baru yang menimpa manusia modern. Sebetulnya stres sudah ada semenjak manusia ada. Kenyataan yang lain ialah bahwa pada dewasa ini kehidupan manusia makin kompleks, sehingga penyebab stres juga makin banyak. Kehidupan manusia pada masa silam sangat sederhana, tenang dan santai, sehingga stres jarang terjadi.

Mahasiswa merupakan salah satu unsur modernisasi , tentu juga terkena efek dari modernisasi tersebut. Maka mahasiswa juga tidak terlepas dari kekomplekan dari modernisasi tersebut, sehingga mahasiswa juga tidak akan terlepas dari macam-macam penyebab stres yang ada dewasa ini.

Stres adalah kondisi tegang pada emosi, pikir dan fisik. Adanya stres  yang berlebihan pada seseorang dapat mempengaruhi kemampuan orang untuk menghadapi lingkungan. Misalnya saja seperti stres yang banyak dialami oleh mahasiswa terutama dalam hal pelajaran yang di dapatnya dari kampus. Seperti yang kita ketahui masalah pelajaran merupakan masalah yang utama dalam diri mahasiswa karena terkadang mahasiswa tersebut tidak bisa dalam belajar, kesulitan memusatkan perhatian pada pelajarannya, kesulitan dalam mencapai prestasi, kesukaran dalam bersaing, dan tidak mampu menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh dosen kepada mahasiswanya merupakan penyebab stres yang timbul pada diri mahasiswa tersebut. Terkadang dengan tugas-tugas yang diberikan oleh dosennya membuat mahasiswa itu merasa terbebani karena bukan hanya satu atau dua yang diberikan tugasnya melainkan beberapa mata kuliah lain pun diberikan tugas sehingga mahasiswa berfikir bagaimana ia harus mengerjakan tugasnya itu semua tanpa harus mengganggu kegiatan lainnya seperti waktu istirahat dan bermain. Stres pun muncul pada diri mahasiswa. Namun dosen memberikan tugas juga merupakan hal yang positif agar mahasiswanya mau mengulang pelajaran yang telah diberikan oleh dosennya agar mahasiswa tersebut bisa sukses di kemudian harinya.

Oleh karena itu mahasiswa pun terkadang bisa prustasi akibat banyak hal yang terlalu dipikirkan selain masalahnya di kampus dan masalahnya dengan lingkungannya seperti keadaan yang ada di rumahnya yang bisa menimbulkan stres. Selain itu hal lain yang bisa memicu timbulnya stress adalah masalah pergaulan. Karena jika manusia dengan manusia lain tidak bisa beradaptasi dan bergaul maka orang tersebut akan mendapatkan kesulitan dalam pengembangan dirinya, begitu pula terhadap pergaulan mahasiswa sekarang yang mengalami kesulitan akibat takut timbulnya konflik di dalam pertemanan antara ingin bergaul atau tidak ingin bergaul. Dan hal ini sangat mudah memicu timbulnya stres di kalangan mahasiswa ataupun remaja dewasa lainnya karena mereka berfikir mengapa mereka tidak bisa bergaul seperti orang lain? Padahal mereka orang terpelajar yang selalu mendapatkan didikan oleh para pengajar mereka di kampusnya. Stres juga bisa terjadi akibat gejolak yang ada dalam diri pribadinya sendiri karena kegagalannya dalam mencapai apa yang ingin dicapainya dan ini juga sering dialami oleh mahasiswa dan orang dewasa lainnya. Itulah beberapa penyebab timbulnya stres dalam kehidupn mahasiswa dalam dewasa ini.

Leave a comment »

Razia Lalu lintas jadi ketakutan dan Ancaman bagi Masyarakat

Razia lalu lintas merupakan sebuah cara untuk membuat mayarakat menjadi taat dan patuh terhadap peraturan lalu lintas di jalan, karena banyak kita lihat masyarakat selalu melanggar lalu lintas di jalan, banyak masyarakat beranggapan peraturan itu di buat untuk di langgar, maka oleh karena itu polisi lalu lintas selalu membuat razia di jalan guna mencegah hal itu terjadi. Karena hal ini, polisi lalu lintas harus turun tangan untuk membasmi pelanggaran tersebut, seperti yang kita lihat di jalan, walaupun dalam keadaan panas mereka tetap akan merazia pengendara yang melanggar lalu lintas di jalan. Walaupun kita lihat secara tidak langsung hal ini menguntungkan bagi polisi, jadi siapa yang patut di salahkan, ?? coba saja kalau masyarakat tidak melakukan pelanggaran lalu lintas, maka ini tidak akan terjadi.

Sebenarnya razia itu tidak harus di lakukan, jika semua pengendara jalan patuh terhadap peraturan lalu lintas di jalan, tapi sayang masyarakat belum sepenuhnya 100 % mau melakukan hal itu, pasti ada saja pelanggaran yang di buat oleh masyarakat, contohnya saja pengendara sepeda motor sebagai objek razia terbesar, apalagi pengendara tersebut pada kalangan anak muda, tidak bisa kita pungkiri anak muda senang membuat pelanggaran,sepeda motor yang tidak lengkap, kurang lengkapnya surat-surat kendaraan dan lain sebagainya, tidak hanya kalangan anak muda, hampir semua masyarakat banyak melakukan pelanggaran lalu lintas, sehingga harus menambah kerja polisi. Oleh karena itu razia ini menjadi ancaman dan ketakutan bagi masyarakat, karena jika mereka tertangkap oleh polisi mereka harus membayar dengan harga yang telah di tentukan sesuai pelanggaran yang mereka buat, dan anehnya lagi kalau mereka melihat polisi di jalan mereka akan lari dan takut, padahal pada saat itu polisi tidak sedang membuat razia,  untuk mencegah ketakutan dan ancaman tersebut, masyarakat sebaiknya jangan melakukan pelanggaran yang dapat membuat mereka rugi besar dan ancaman ini tidak akn terjadi pada masyarakat.

Leave a comment »

Analisis Komunikasi Dalam Proses Budaya

by: Agoestina

Komunikasi adalah aktivitas yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia sehari-hari. Kegiatan ini sering berlangsung di antara individu-individu yang berlainan latar belakang dan budaya.

  Definisi komunikasi menurut beberapa para ahli adalah sebagai berikut :

a.            Harorl D. Lasswell, 1960

Komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses yang menjelaskan siapa, mengatakan apa, dengan saluran apa, kepada siapa? Dengan akibat apa atau hasil apa? (Who? Says what? In which channel? To whom? With what effect?).

b.            David K. Berlo, 1965

Komunikasi sebagai instrumen dari interaksi sosial berguna untuk mengetahui dan memprediksi setiap orang lain, juga untuk mengetahui keberadaan diri sendiri dalam memciptakan keseimbangan dengan masyarakat.

c.             Shannon & Weaver, 1949

Komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling pengaruh mempengaruhi satu sama lainnya, sengaja atau tidak sengaja. Tidak terbatas pada bentuk komunikasi menggunakan bahasa verbal, tetapi juga dalam hal ekspresi muka, lukisan, seni, dan teknologi.

d.            Kamus Besar Bahasa Indonesia

Komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami; hubungan; kontak.

e.          Menurut Prof. Dr. Alo Liliweri

Komunikasi adalah pengalihan suatu pesan dari satu sumber kepada penerima agar dapat dipahami.

Sementara budaya berasal kata budi dan daya. Budi bermakna pemikiran / perasaan sedangkan daya berarti kemampuan. Hal tersebut bermakna bahwa hanya manusialah yang mempunyai kekuatan tersebut untuk membuat kehidupan dirinya dan mahluk yang lain menjadi lebih baik. Hanya manusialah yang mempunyai budaya yang lebih baik dari mahluk lain.

Dengan kekuatan tersebut maka manusia diharapkan mampu memimpin alam semesta ini. Tetapi tentu saja, menjadi pemimpin tidaklah mudah sebab kita pasti diminta pertanggungjawaban terhadap semua amal perbuatan kita dalam memimpin, setidaknya memimpin diri kita sendiri. Sudahkah kita mengendalikan diri dalam berkomunikasi? Asking is thinking yang saya sajikan diatas tentunya berkaitan dengan budaya manusia, terutama dalam proses berkomunikasi.

Parasosiolog dan antropolog menyarikan bahwa budaya merupakan proses konvensi atau kesepakatan berdasarkan pemikiran dan perasaan manusia dengan kumpulannya. Termasuk salah satunya ialah kesepakatan bahasa. Perlu ditekankan dalam pemaknaan bahasa di sini bukan saja perihal komunikasi verbal tetapi juga bahasa yang mengarah kepada non verbal. Secara jelas, mungkin kita tetap bisa hidup tanpa budaya dan bahasa, namun tidak sebaik sekarang.

Mungkin kita tetap bisa hidup di zaman batu karena budaya dan bahasa yang disepakati pada saat itu lebih sederhana daripada sekarang ini. Namun karena kita telah terbiasa dengan kemajuan budaya dan bahasa kita sehingga kalau sekarang kita diminta kembali ke zaman batu tentunya akan mengalami tekanan (stress).

Mengapa stress? Karena terjadi kesenjangan antara harapan kita yang ingin berkomunikasi dan berbudaya secara maju namun realitanya kalau kita kembali ke zaman batu, hal tersebut tidak mungkin terjadi. Oleh karena itu, fenomena akan selalu kembali merujuk kepada konteksnya (Albert Camus).

Oleh karena pentingnya budaya dalam proses komunikasi sebagai salah satu determinan atau faktor penentu maka Burgon & Huffner (2002) menjelaskan bahwa budaya merupakan salah satu fondasi utama dalam proses komunikasi. Pernyataan ini mempunyai alasan bahwa budaya merupakan faktor pembentuk adanya bahasa yang disepakati dalam komunitas tertentu.

2.                 Komunikasi sebagai Proses Budaya

Komunikasi adalah salah satu wujud kebudayaan. Sebab, komunikasi hanya bisa terwujud setelah sebelumnya ada suatu gagasan yang akan dikeluarkan oleh pikiran individu. Jika komunikasi itu dilakukan dalam suatu komunitas, maka menjadi sebuah kelompok aktivitas (kompleks aktivitas dalam lingkup komunitas tertentu). Dan pada akhirnya, komunikasi yang dilakukan tersebut tak jarang membuahkan suatu bentuk fisik misalnya hasil karya seperti sebuah bangunan.

Bukankah bangunan didirikan karena ada konsep, gagasan, kemudian didiskusikan (dengan keluarga, pekerja atau arsitek) dan berdirilah sebuah rumah. Maka komunikasi, nyata menjadi sebuah wujud dari kebudayaan. Dengan kata lain, komunikasi bisa disebut sebagai proses budaya yang ada dalam masyarakat.

Jika ditinjau secara lebih kongkrit, hubungan antara komunikasi dengan isi kebudayaan akan semakin jelas :

1.      Dalam mempraktekkan komunikasi manusia membutuhkan peralatan-peralatan tertentu. Secara minimal komunikasi membutuhkan sarana berbicara seperti mulut, bibir dan hal-hal yang berkaitan dengan bunyi ujaran.Ada kalanya dibutuhkan tangan dan anggota tubuh lain (komunikasi non verbal) untuk mendukung komunikasi lisan.

Ditinjau secara lebih luas dengan penyebaran komunikasi yang lebih luas pula, maka digunakanlah peralatan komunikasimassaseperti televisi,suratkabar, radio dan lain-lain.

2.      Komunikasi menghasilkan mata pencaharian hidup manusia. Komunikasi yang dilakukan lewat televisi misalnya membutuhkan orang yang digaji untuk “mengurusi” televisi.

3.      Sistem kemasyarakatan menjadi bagian tak terpisahkan dari komunikasi, misalnya sistem hukum komunikasi.

Sebab, komunikasi akan efektif manakala diatur dalam sebuah regulasi agar tidak melanggar norma-norma masyarakat. Dalam bidang pers, dibutuhkan jaminan kepastian hukum agar terwujud kebebasan pers. Namun, kebebasan pers juga tak serta merta dikembangkan di luar norma masyarkat. Di sinilah perlunya sistem hukum komunikasi.

4.      Komunikasi akan menemukan bentuknya secara lebih baik manakala menggunakan bahasa sebagai alat penyampai pesan kepada orang lain. Wujud banyaknya bahasa yang digunakan sebagai alat komunikasi menunjukkan bahwa bahasa sebagai isi atau wujud dari komunikasi. Bagaimana penggunaan bahasa yang efektif, memakai bahasa apa, siapa yang menjadi sasaran adalah manifestasi dari komunikasi sebagai proses budaya. Termasuk di sini juga ada manifestasi komunikasi sebagai proses kesenian misalnya, di televisi ada seni gerak (drama, sinetron, film) atau seni suara (menyanyi, dialog).

5.      Sistem pengetahuan atau ilmu pengetahuan merupakan substansi yang tak lepas dari komunikasi. Bagaimana mungkin suatu komunikasi akan berlangsung menarik dan dialogis tanpa ada dukungan ilmu pengetahuan? Ilmu pengetahuan ini juga termasuk ilmu tentang berbicara dan menyampaikan pendapat. Bukti bahwa masing-masing pribadi berbeda dalam penyampaian,gaya, pengetahuan yang dimiliki menunjukkan realitas tersebut.

Komunikasi sebagai proses budaya tak bisa dipungkiri menjadi obyektivasi antara budaya dengan komunikasi. Proses ini meliputi peran dan pengaruh komunikasi dalam proses budaya. Komunikasi adalah proses budaya karena di dalamnya ada proses seperti layaknya sebuah proses kebudayaan, punya wujud dan isi serta kompleks keseluruhan.

Sesuatu dikatakan komunikasi jika ada unsur-unsur yang terlibat di dalamnya. Kebudayaan juga hanya bisa disebut kebudayaan jika ada unsur-unsur yang terlibat di dalamnya yang membentuk sebuah sistem.

3.                 Bahasa dalam Lintas Budaya

Kita tidak dapat menafikan bahwa bahasa sangat terpengaruh oleh budaya. Oleh karena zaman globalisasi ini maka memungkinkan budaya saling bersinggungan. Persinggungan dan pertemuan budaya inilah yang memungkinkan manusia memasuki alam lintas budaya.

Menurut catatan Burgon & Huffner (2002), beberapa perbedaan bahasa dalam lintas budaya dapat terlihat dari;

1.      Contoh :

Perbedaan bahasa non verbal  ‘anggukan’ dalam konteks budaya Indonesiadengan India, cipika-cipiki (touching) dalam konteks budaya timur dengan barat.

2.      Contoh :

Perbedaan intonasi yang meninggi di Jawa Timur akan dirasa intonasi  ‘mendikte’ oleh orang yang mempunyai orientasi budaya Jawa Tengah atauYogyakarta.

3.      Contoh :

Perbedaan pemaknaan bahasa/ kata  ‘butuh’ dalam konteks budayaIndonesiadimaknai sebagai keperluan dan dalam konteks budayaMalaysiadimaknai sebagai alat kelamin.

4.      Konteks budaya Jawa Timur cenderung lebih asertif perbedaan diksi  dalam menyampaikan pendapat daripada konteks budaya Jawa Tengah yang cenderung ‘unggah-ungguh’ sehingga diksinya pun berbeda.  Contoh: leveling diksi  penyebutan ‘kamu’ dalam konteks budaya Jawa Tengah yang berjenjang, yaitu ‘kowe’, ‘sampeyan’, ‘panjenengan’, ‘pangandika’.

Berdasarkan pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa asumsinya dasarnya komunikasi merupakan suatu proses budaya. Artinya, komunikasi yang ditujukan pada orang atau kelompok lain, tak lain adalah sebuah pertukaran kebudayaan. Misalnya, anda berkomunikasi dengan suku AboriginAustralia secara tidak langsung anda sedang berkomunikasi berdasarkam kebudayaan tertentu milik anda untuk menjalin kerja sama atau mempengaruhi kebudayaan lain.

 Dalam proses tersebut terkandung unsur-unsur kebudayaan, salah satunya adalah bahasa. Sedangkan bahasa adalah alat komunikasi. Dengan demikian komunikasi juga disebut sebagai proses budaya.

Perbedaan-perbedaan kebudayaan antara para pelaku komunikasi ini serta perbedaan lainnya, spserti kepribadian individu, umur, penampilan fisik, menjadi permasalahan inheren dalam proses komunikasi manusia.

Dengan sifatnya yang demikian, Komunikasi Antar Budaya dianggap sebagai perluasan dari bidang-bidang studi komunikasi manusia, seperti komunikasi antarpribadi, komunikasi organisasi dan  komunikasimassa.

Dalam perkembangannya teori Komunikasi Antar Budaya telah menghasilkan sejumlah defenisi, diantaranya adalah:

  • Komunikasi antar budaya adalah seni untuk memahami dan dipahami oleh khalayak yang memiliki kebudayaan lain. (Sitaram, 1970)
  • Komunikasi bersifat budaya apabila terjadi diantara orang-orang yang berbeda kebudayaan. (Rich, 1974)
  • Komunikasi antarbudaya adalah komunikasi yang terjadi dalam suatu kondisi yang menunjukan adanya perbedaan budaya seperti bahasa, nilai-nilai, adat, kebiasaan. (Stewart, 1974)
  • Komunikasi antarbudaya menunjuk pada suatu fenomena komunikasi di mana para pesertanya memiliki latar belakang budaya yang berbeda terlibat dalam suatu kontak antara satu dengan lainnya, baik secara langsung atau tidak langsung. (Young Yung Kim, 1984)

Dari definisi tersebut nampak jelas penekanannya pada perbedaan kebudayaan sebagai faktor yang menentukan dalam berlangsungnya proses komunikasi dan interaksi yang terjadi di dalamnya.

4.                  Hubungan Timbal Balik antara Komunikasi dengan Kebudayaan

Unsur-unsur pokok yang mendasari proses komunikasi antarbudaya adalah konsep-konsep tentang ‘kebudayaan’ dan ‘komunikasi’. Hal ini ditekankan oleh Sarbaugh (1979) yang menyatakan bahwa pengertian tentang komunikasi antarbudaya memerlukan suatu pemahaman tentang konsep-konsep komunikasi dan kebudayaan serta adanya saling ketergantungan antar keduanya.

Saling ketergantungan ini dapat terbukti apabila disadari bahwa:

1. Pola-pola komunikasi yang khas dapat berkembang atau berubah dalam suatu keompok kebudayaan tertentu;

2. Kesamaan tingkah laku antara satu generasi dengan generasi berikutnya hanya dimungkinkan berkat digunakannya sarana-sarana komunikasi.

Sementara Smith (1966) menerangkan hubungan yang tidak terpisahkan antara komunikasi dan budaya sebagai berikut:

1. Kebudayaan meruakan suatu kode atau kumpulan peraturan yang dipelajari dan dimiliki bersama.

2. Untuk mempelajari dan memiliki bersama diperlukan komunikasi, sedangkan komunikasi memerlukan kode-kode dan lambang-lambang yang harus dipelajari dan dimiliki bersama.

Untuk lebih mengerti hubungan komunikasi dengan kebudayaan bisa ditinjau dari sudut pandang perkembangan masyarakat, perkembangan kebudayaan, dan peranan komunikasi dalam proses perkembangan tersebut. Perkembangan mencerminkan hubungan terus menerus dan berlangsung dan di mana simbol dan lambang berlangsung dalam proses resiprokal (timbal-balik) antara orang-orang didalamnya.

5.                 Hambatan Komunikasi Antar Budaya

Sebenarnya kita harus memperhatikan secara khusus bahwa orang  yang berbeda budaya akan berkomunikasi secara berbeda pula. Hal ini untuk menjaga agar interaksi yang terjalin tidak terhambat. Namun kenyataannya banyak manusia yang mengalami hambatan ketika berkomunikasi antar budaya.

Satu kesulitan adalah kecenderungan kita untuk melihat orang lain dan perilaku mereka melalui kacamata kultur kita sendiri, hal ini disebabkan karena etnosentrisme. Etnosentrisme adalah kecenderungan untuk mengevaluasi nilai, kepercayaan, dan perilaku dalam kultur sendiri sebagai lebih baik, lebih logis dan lebih wajar ketimbang dalam kultur lain. Kita perlu menyadari bahwa kita dan orang lain berbeda tetapi setara, tidak ada yang lebih rendah dan lebih tinggi ( Devito, 1991).

Misalnya, konflik yang terjadi antara etnis Dayak dan Madura di Kalimantan Barat. Masing-masing etnis menganggap bahwa etnisnya lah yang paling baik, sementara etnis lain dianggap jelek atau buruk (etnosentrisme). Hal ini yang menyebabkan konflik tersebut berkepanjagan dan sulit diselesaikan.

Kesulitan lain adalah apabila ia menganggap semua orang sama dengan anggota kelompok/etnisnya, hal ini biasa disebut Stereotype. Sebenarnya manusia adalah makhluk yang unik, dengan kata lain manusia memiliki karakteristiknya sendiri-sendiri. Maka, tidak semua perilaku komunikasi baik secara verbal maupun nonverbal mempunyai makna yang sama dalam semua budaya.

Sebagai contoh, bisa dilihat pada kebiasaan menganggukkan kepala. Di Indonesia atau di negara-negara lain seperti Amerika, anggukan kepala diartikan sebagai “iya” atau “mengerti”, sementara di Jepang, anggukan kepala diartikan sebagai “saya mendengarkan”.

Orang-orang Eskimo, misalnya, biasa bersalaman dengan saling menggesek-gesekkan hidung. Bayangkan bila mereka melakukannya dengan orang Eropa atau Asia yang tidak mengetahui kebiasaan tersebut, tentunya bangsa Eskimo akan dianggap tidak sopan.

Dalam berkomunikasi antarpribadi, orang haruslah memperhatikan budaya yang dimiliki individu tersebut. Dengan kata lain, Devito mengatakan bahwa komunikasi antar budaya yang efektif umumnya dapat diperkuat dengan memanfaatkan karakteristik- karakteristik yang menandai interaksi antarpribadi yang efektif. Misalnya keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap positif, kesetaraan, percaya diri, kedekatan, manajemen interaksi, daya ekspresi, dan berorientasi kepada lawan bicara.

Jadi, setiap orang yang berkomunikasi antar budaya setidaknya bersikap terbuka terhadap perbedaan nilai, kepercayaan, dan sikap. Menempatkan diri pada posisi lawan bicara yang berasal dari budaya yang berbeda, bersikap spontan dan deskriptif, mengkomunikasikan sikap positif, menganggap berkomunikasi adalah kesetaraan, tetap percaya diri dan tenang dalam setiap situasi serta tidak sombong.

Dalam komunikasi antar budaya kualitas kedekatan sangat penting agar memperkecil perbedaan, dan bersikap sensitive terhadap perbedaan ketika akan mengambil alih pembicaraan. Selain itu, isyaratkan empati dengan ekspresi wajah, gerak gerik yang penuh minat dan perhatian serta tanggapan yang mencerminkan pengertian (verbal dan nonverbal). Terakhir kita harus menyadari bahwa setiap orang punya andil dalam pembicaraan. Dengan demikian, hambatan yang ada dalam komunikasi antar budaya menjadi tiada.

Kesimpulan

 

Komunikasi adalah salah satu wujud kebudayaan. Sebab, komunikasi hanya bisa terwujud setelah sebelumnya ada suatu gagasan yang akan dikeluarkan oleh pikiran individu. Jika komunikasi itu dilakukan dalam suatu komunitas, maka menjadi sebuah kelompok aktivitas (kompleks aktivitas dalam lingkup komunitas tertentu). Dan pada akhirnya, komunikasi yang dilakukan tersebut tak jarang membuahkan suatu bentuk fisik misalnya hasil karya seperti sebuah bangunan.

Jadi, setiap orang yang berkomunikasi antar budaya setidaknya bersikap terbuka terhadap perbedaan nilai, kepercayaan, dan sikap. Menempatkan diri pada posisi lawan bicara yang berasal dari budaya yang berbeda, bersikap spontan dan deskriptif, mengkomunikasikan sikap positif, menganggap berkomunikasi adalah kesetaraan, tetap percaya diri dan tenang dalam setiap situasi serta tidak sombong.

Saran

            Marilah kita sebagai penerus bangsa ini menjaga budaya yang sudah ada agar komunikasi antar budaya pun dapat terjalin dengan serasi dan selaras.


 

 


Leave a comment »

My Artikel

Tayangan Kekerasan Terhadap Psikologi Anak

Televisi sekarang telah menjelma sebagai sahabat yang aktif mengunjungi anak-anak. Bahkan dilingkungan keluarga yang para orang tuanya sibuk bekerja di luar rumah. Televisi telah berfungsi ganda, yaitu sebagai penyaji hiburan sekaligus sebagai pengganti orangtua dalam mendampingi keseharian anak-anak. Ironisnya, ditengah-tengah peran vitalnya selaku media hiburan keluarga, dunia pertelevisian kini telah mengalami disorientasi dalam ikut mendidik penontonnya. Sebagaimana dikemukakan oleh Ketua Lembaga Sensor Film (LSF), Titie Said. Dunia pertelevisian kini terancam oleh unsur-unsur vulgarisme, kekerasan, dan pornografi. Ketiga unsur tersebut hampir-hampir menjadi sajian rutin di sejumlah stasiun televis serta dapat ditonton secara bebas bahkan oleh kalangan anak-anak. Padahal ketiga unsur itu mestinya dicegah agar tidak ditonton oleh anak-anak mengingat kondisi psikologi mereka yang belum mampu membedakan mana hal-hal yang positif dan mana hal-hal yang negatif dari sebuah tayangan televisi.

Anak-anak lebih bersifat pasif dalam berinteraksi dengan TV, bahkan seringkali mereka terhanyut dalam dramatisasi terhadap tayangan yang ada di televisi. Disatu sisi TV menjadi sarana sebagai media informasi, hiburan bahkan bisa sebagai kemajuan kehidupan, namun disisi lain TV dapat menularkan efek yang buruk bagi sikap, pola pikir, perilaku anak.

Televisi tidak bisa dipungkiri, kini boleh jadi telah menjadi pengasuh setia masyarakat. Tak terkecuali anak-anak. Yang jadi masalah, kalau anak-anak menonton tayangan televisi yang tidak sesuai dengan usianya. Misalnya, tayangan kekerasan. Anak-anak yang masih rentan daya kritisnya, akan mudah sekali terpengaruh dengan isi dan materi tayangan televisi yang ditontonnya, dan pengaruhnya bisa terbawa sampai mereka dewasa.

Oleh sebab itu para orang tua senantiasa diingatkan untuk menerapkan kontrol yang ketat terhadap kebiasaan menonton televisi bagi anak-anaknya. Karena kalau tidak dimulai dari sekarang, dampaknya sangat membahayakan buat perkembangan jiwa mereka.

Kekerasan di TV membuat anak menganggap kekerasan adalah jalan untuk menyelesaikan masalah. Dampak menonton televisi bagi anak-anak. Antara lain bisa menimbulkan ketagihan dan ketergantungan serta pola hidup konsumtif di kalangan anak-anak. Anak-anak akan merasa pantas untuk menuntut apa saja yang ia inginkan.

Terlepas dari baik buruknya tayangan televisi yang ditonton seorang anak, pola menonton televisi yang tidak terkontrol akan menimbulkan dampak psikologis bagi anak-anak. Yang pertama, ketrampilan anak jadi kurang berkembang. Usia anak adalah usia dimana si anak sedang mengembangkan segala kemampuannya seperti kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dengan orang lain dan kemampuan mengemukakan pendapat. Dampak lainnya, disadari atau tidak, perilaku-perilaku yang dilihat di TV akan menjadi satu memori dalam diri si anak dan akibatnya si anak menjadi meniru yang bisa berkembang menjadi karakter pribadinya di kemudian hari, kalau tidak segera diantisipasi. Jadi jangan heran, kalau orangtua melihat tingkah anaknya yang kasar atau suka mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan, meski orang tua setengah mati meyakinkan bahwa mereka tidak pernah mendidik anaknya seperti itu. Bisa jadi, itu akibat pola menonton tv yang tidak terkontrol.

Secara umum ada tiga lingkungan yang sangat mempengaruhi kualitas mental dan spiritual anak, yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan sosial budaya yang berhubungan dengan nilai-nilai serta norma-norma yang berlaku di masyarakat, termasuk di dalamnya pengaruh televisi, buku dan media massa. Ketiga lingkungan tersebut saling menopang dalam mempengaruhi perkembangan dan pembentukan karakter anak.

Karena itu, orang tua ataupun guru, sebagai pendidik normal, perlu memahami bagaimana cara menumbuh kembangkan anak, serta memahami pula teknik-teknik bagaimana berinteraksi dengan anak yang sesuai dengan aqidah serta fleksibel dengan tuntutan jaman.

Leave a comment »