Akibat Kurangnya Sosialisasi Terhadap Media dan Pornografi

oleh : agoestina

Kepentingan ekonomis menguatkan era komunikasi dan informasi. Peran media pun sangat dibutuhkan didalamnya. Era komunikasi memberikan peluang bagi perkembangan media. Media diciptakan oleh manusia namun saat ini media yang memperalat manusia. Media merupakan alat-alat grafis, foto grafis atau elektronis untuk menangkap, memproses dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.

Menurut kamus bahasa Indonesia media yaitu alat atau sarana komunikasi. Apa yang kita komunikasikan? Sebenarnya banyak sekali, namun lebih cenderung kepada informasi dan ilmu pengetahuan. Karena semakin hari teknologi semakin canggih dan maju maka muncullah jaringan elektronik yang dikenal sekarang dengan internet secara komersial oleh American Samuel F.B Morse pada tahun 1844 kemudian disusul The Associated Press yang memperkenalkan pelayanan melalui jaringan elektronik untuk pertama kalinya pada tahun 1844 yang menjadi pelopor apa yang kita kenal dengan www (world wide web) sekarang ini.

Dengan adanya ditemukannya web tersebut maka dengan mudahnya orang-orang mencari infomasi tanpa batas. Namun ada juga orang-orang yang menyalahgunakan pemakaian internet tersebut untuk melihat hal-hal yang tak seharusnya dilihat namun dilanggar dan itu sangat berbahaya bagi anak-anak yang dibawah umur yang sudah pintar dalam menggunakan layanan internet. Ditambah lagi dengan adanya mesin pencari seperti google yang bisa mengakses jaringan kemana saja dan makin mempermudah bagi orang-orang yang ingin membuka situs-situs porno dan lain sebagainya.

Bagi anak-anak khususnya sebelum mereka mengenal internet alangkah lebih baiknya bagi seorang guru atau orang tua memberikan pendidikan dan pembinaan seperti sosialisasi kepada mereka anak-anaknya agar tidak terjadi hal-hal yang menyimpang. Namun sosialisasi itu bisa gagal dikarenakan orang tua ataupun guru tersebut gaptek (gagap teknologi). Atau bisa saja guru atau orangtua tersebut memang memberikan kebebasan kepada anak-anaknya untuk berkarya dengan menggunakan internet agar orang tua atau gurunya bisa menghilangkan kesan gaptek tersebut di depan anak-anak atau siswa-siswanya.

Karena tidak adanya sosialisasi tersebut maka dapat menimbulkan hal-hal seperti :

  1. Kurangnya pengawasan, pendidikan dan pembinaan dari guru atau orang tua terhadap anak-anak atau siswa-siswa tentang bagaimana penggunaan internet yang sehat, manfaat internet dan dampak negatif seta cara menghindarinya.
  2. Seorang anak pasti memiliki rasa penasaran dan ingin tahu yang besar maka dengan begitu ia akan mencoba dengan membuka situs-situs porno di internet karena guru disekolahnya tidak terbuka akan hal seks educationnya maka dengan itulah anak-anak mencari jalan pintas dengan membuka internet.
  3. Seperti yang telah dijelaskan diatas karena mungkin saja guru atau orangtua nya yang gaptek maka guru atau orangtua sendiri tidak tahu harus memberikan pembinaan apa terhadap anak-anaknya.
  4. Kurangnya proteksi software untuk memblokir situs-situs porno.
  5. Membuka keuntungan finansial bagi warnet-warnet.
  6. Hal yang sangat utama adalah murahnya biaya untuk mengakses situs-situs tersebut.

Akibatnya dari semua itu kontrol sosial menjadi berkurang terhadap pornografi. Menurut Ike R. Sugianto, seorang psikolog mengatakan bahwa efek psikologis pornografi dari internet bagi anak sangat memicu perkembangan kelainan seksual mereka. Anak yang mengenal pornografi sejak dini cenderung menjadi antisosial, tidak setia, melakukan kekerasan dalam rumah tangga, tidak sensitif, memicu kelainan seksual, dan menimbulkan kecanduan mengakses internet terutama pada situs game dan porno.

Seperti yang kita ketahui bahwa larangan pornografi sudah tercantum di dalam KUHP, UU No 8/1992 tentang perfilman, UU No 36/1999 tentang telekomunikasi, UU No 40/1999 tentang pers dan UU No 32/2002 tentang penyiaran. Namun aplikasinya tidak berjalan karena adanya kelemahan dan kekurangan pada substansinya yaitu perumusan melanggar kesusilaan yang bersifat abstrak. Oleh karena itu situs-situs porno tidak dapat dihentikan begitu saja karena pada implementasinya pornografi telah melekat pada diri media dan jejaring sosial lainnya. Namun sosialisasi tetap harus dilakukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: