Masuknya Islam Ke Indonesia

BAB 1

PENDAHULUAN

Dewasa ini kedudukan ilmu sejarah, khususnya sejarah Islam mendapat perhatian yang kurang di Indonesia. Bahkan, urgensi dari mempelajari sejarah mulai banyak yang mempertanyakan kembali. Di sisi lain, sejarah Islam di Indonesia yang dikemukakan oleh para ahli sejarah selama ini masih debatable. Buku-buku yang ditulis oleh beberapa peneliti sejarah Islam di Indonesia terkadang saling berseberangan satu sama lain pendapatnya, misal: perbedaan tentang asal negara para pedagang Islam yang membawa serta menyebarkan Islam pertama kali diIndonesia ada yang mengatakan berasal dari Arab, ada juga yang mengatakan berasal dariPersia dan ada juga dariIndia.

Berbeda dengan pembabakan sejarah dunia Islam yang sudah cukup mapan, periodisasi sejarah Islam di Indonesia belum begitu jelas. Hal ini terutama karena karya-karya sejarah Islam di Indonesia yang memaparkan secara lengkap masih sangat langka. Karya sejarah Islam yang dapat dikatakan lengkap dan menyeluruh adalah karya Hamka, Sejarah Umat Islam, jilid IV; karya Uka Tjandrasasmita (Ed.), Sejarah Nasional III, dan Taufik Abdullah (Ed.), Sejarah Umat Islam Indonesia. Historiografi Islam di Indonesia memang masih dalam perkembangan awal (Yatim, 2008: 6).

Sebagai seorang muslimIndonesiasudah seyogyanya kita mengetahui lebih dalam mengenai sejarah Islam yang  ada diIndonesiadengan cara terus mengkaji sumber-sumber sejarah yang sudah ada maupun dengan mencari dan meneliti sumber-sumber sejarah yang belum ditemukan. Makalah ini akan membahas secara garis-garis besar tentang sejarah penyebaran Islam di Indoesia. Sebenarnya penulis ingin sekali membahas panjang lebar tentang sejarah Islam di Indonesia, tetapi karena alasan tertentu penulis hanya membahas poin-poin yang dianggap penting saja. Berikut ini diuraikan beberapa hal tentang sejarah penyebaran Islam di Indonesia.

BAB 11

PEMBAHASAN

1) Proses Masuk dan Berkembangnya Agama dan Kebudayaan Islam

    di Indonesia

Islam berkembang lewat perantaraan bahasa Arab.Kontak antara Islam dengan kepulauan nusantara sebagian besar berlangsung di wilayah pesisir pantai. Utamanya lewat proses perdagangan antara penduduk lokal dengan para pedagang bangsaPersia, Arab, dan India Gujarat. Kontak-kontak ini, pada perkembangannya, memunculkan proses akulturisasi budaya. Islam kemudian muncul sebagai “competing” culture Hindu-Buddha. Terdapat berbagai pendapat dan teori yang mngemukakan proses masuknya Islam keIndonesia. Selain itu juga masing-masing pendapat menggunakan berbagai sumber, baik dari arkeologi, ataupun beberapa tulisan dari berbagai sumber. Diantaranya adalah sebagai berikut:

Beberapa Pendapat Tentang Awal Masuknya Islam di Indonesia

   1.   Islam Masuk ke Indonesia Pada Abad ke 7

Masuknya Islam di Indonesia (di Aceh), sebagian dasar adalah catatan perjalanan Al mas’udi, yang menyatakan bahwa pada tahun 675 M, terdapat utusan dari raja Arab Muslim yang berkunjung ke Kalingga. Pada tahun 648 diterangkan telah ada koloni Arab Muslim di pantai timur Sumatera.

Dari Harry W. Hazard dalam Atlas of Islamic History (1954), diterangkan bahwa kaum Muslimin masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M yang dilakukan oleh para pedagang muslim yang selalu singgah di sumatera dalam perjalannya ke China.

Prof. S. muhammmad Huseyn Nainar, dalam makalah ceramahnya berjudul Islam di India dan hubungannya dengan Indonesia, menyatakan bahwa beberapa sumber tertulis menerangkan kaum Muslimin India pada tahun 687 sudah ada hubungan dengan kaum muslimin Indonesia.

W.P. Groeneveld dalam Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled From Chinese sources, menjelaskan bahwa pada Hikayat Dinasti T’ang memberitahukan adanya Aarb muslim berkunjung ke Holing (Kalingga, tahun 674). (Ta Shih = Arab Muslim).

T.W. Arnold dalam buku The Preching of Islam a History of The Propagation of The Moslem Faith, menjelaskan bahwa Islam datang dari Arab ke Indonesia pada tahun 1 Hijriyah (Abad 7 M).

     2.  Islam Masuk Ke Indonesia pada Abad ke-11:

Diketemukannya makam panjang di daerah Leran Manyar, Gresik, yaitu makam Fatimah Binti Maimun dan rombongannya.Pada makam itu terdapat prasati huruf Arab Riq’ah yang berangka tahun (dimasehikan 1082M).

     3.  Islam Masuk Ke Indonesia Pada Abad Ke-13:

Teori lain seputar masuknya Islam dari Timur Tengah ke nusantara diajukan Supartono Widyosiswoyo. Menurutnya, proses masuknya Islam tersebut dapat dibagi ke dalam 3 gelombang yaitu : Jalur Utara, Jalur Tengah, dan Jalur Selatan. Ketiga gelombang ini didasarkan pada pangkal wilayah persebaran Islam yang memasukiIndonesia.

Jalur Utara adalah proses masuknya Islam dariPersiadanMesopotamia. Darisana, Islam beranjak ke timur lewat jalur daratAfganistan,Pakistan, Gujarat, lalu menempuh jalur laut menujuIndonesia. Lewat Jalur Utara ini, Islam tampil dalam bentuk barunya yaitu aliran Tasawuf.Dalam aliran ini, Islam dikombinasikan dengan penguatan pengalaman personal dalam pendekatan diri terhadap Tuhan.Aliran inilah yang secara cepat masuk dan melakukan penyebaran penganut baru Islam di nusantara.Aceh merupakah salah satu basis persebaran Islam Jalur Utara ini.

Jalur Tengah adalah proses masuknya Islam dari bagian barat lembah Sungai Yordan dan bagian timur semenanjungArabia(Hadramaut). Dari sini Islam menyebar dalam bentuknya yang relatif asli, di antaranya adalah aliran Wahabi. Pengaruh terutama cukup mengena di wilayah Sumatera Barat.Ini dapat terjadi oleh sebab dari Hadramaut perjalanan laut dapat langsung sampai ke pantai barat pulau Sumatera.

Jalur Selatan pangkalnya adalah di wilayah Mesir.Saat itu Kairo merupakan pusat penyiaran agama Islam yang modern dan Indonesiamemperoleh pengaruh tertama dalam organisasi keagamaan yang disebut Muhammadiyah.Kegiatan lewat jalur ini terutama pendidikan, dakwah, dan penentangan bid’ah.

2) Pembawa Islam ke Indonesia

Sebelum pengaruh Islam masuk ke Indonesia, di kawasan Indonesia sudah terdapat kontak-kontak dagang, baik dari Arab, Persia, India dan China. Islam secara akomodatif, akulturasi, dan sinkretis merasuk dan punya pengaruh dari arab, Persia, India dan China. Melalui perdagangan itulah Islam masuk ke kawasan Indonesia.Dengan demikian bangsa Arab, Persia, India dan china punya andil melancarkan perkembangan Islam di kawasan Indonesia. MenurutAhmad Mansur Suryanegara dalam bukunya yang berjudul Menemukan Sejarah, terdapat 3 teori yaitu teori Gujarat, teori Makkah dan teori Persia. Ketiga teori tersebut juga menjelaskan tentang permasalahan waktu masuknya Islam ke Indonesia, asal negara dan tentang pelaku penyebar atau pembawa agama Islam ke Nusantara.

  1. Teori Gujarat

Teori ini berpendapat bahwa agama Islam masuk ke Indonesia pada abad 13 dan      pembawanya berasal dari Gujarat (Kambay), India. Dasar dari teori ini adalah   kurangnya fakta yang menjelaskan peranan bangsa Arab dalam penyebaran Islam di Indonesia. Hubungan dagang Indonesia dengan India telah lama melalui jalur Indonesia Kambay – Timur Tengah – Eropa.Adanya batu nisan Sultan Samudra Pasai yaitu Malik Al Saleh tahun 1297M yang bercorak khas Gujarat. Adanya batu nisan Malik Ibrahim Tahun 1419 di Gresik Jawa Timur danbeberapa batu nisan di Pasai dipercaya telah diimpor dari Kambay-Gujarat.Pendukung teori Gujarat adalah Snouck Hurgronye, WF Stutterheim dan BernardH.M. Vlekke.Para ahli yang mendukung teori Gujarat, lebih memusatkan perhatiannya pada saat timbulnya kekuasaan politik Islam yaitu adanya kerajaan Samudra Pasai.

Hal ini juga bersumber dari keterangan Marcopolo dari Venesia (Italia) yang pernahsinggah di Perlak ( Perureula) tahun 1292. Ia menceritakan bahwa di Perlak sudah banyak penduduk yang memeluk Islam dan banyak pedagang Islam dari India yang menyebarkan ajaran Islam.

     2. Teori Makkah

Teori ini merupakan teori baru yang muncul sebagai sanggahan terhadap teori lamayaitu teori Gujarat.

Teori Makkah berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 7 dan pembawanya berasal dari Arab (Mesir).Dasar teori ini adalah pada abad ke 7 yaitu tahun 674 di pantai barat Sumatera sudah terdapatperkampungan Islam (Arab); dengan pertimbangan bahwa pedagang Arab sudah mendirikan perkampungan di Kanton sejak abad ke-4. Hal ini juga sesuai denganberita Cina. Kerajaan Samudra Pasai menganut aliran mazhab Syafi’i, dimana pengaruhmazhab Syafi’i terbesar pada waktu itu adalah Mesir dan Mekkah. SedangkanGujarat/India adalah penganut mazhab Hanafi.Raja-raja Samudra Pasai menggunakan gelar Al malik, yaitu gelar tersebut berasal dari Mesir. Pendukung teori Makkah ini adalah Hamka, Van Leur dan T.W. Arnold. Para ahliyang mendukung teori ini menyatakan bahwa abad 13 sudah berdiri kekuasaan politikIslam, jadi masuknya ke Indonesia terjadi jauh sebelumnya yaitu abad ke 7 dan yang berperan besar terhadap proses penyebarannya adalah bangsa Arab sendiri.

     3. Teori Persia

Teori ini berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia abad 13 dan pembawanyaberasal dari Persia (Iran).Dasar teori ini adalah kesamaan budaya Persia dengan budaya masyarakat Islam Indonesia seperti peringatan 10 Muharram atau Asyura atas meninggalnya Hasan dan Huseincucu Nabi Muhammad, yang sangat di junjung oleh orang Syiah/Islam Iran. Di Sumatra Barat peringatan tersebut disebut dengan upacara Tabuik/Tabut. Sedangkan di pulau Jawa ditandai dengan pembuatan bubur Syuro.Kesamaan ajaran Sufi yang dianut Syaikh Siti Jennar dengan sufi dari Iran yaitu Al – Hallaj.Penggunaan istilah bahasa Iran dalam sistem mengeja huruf Arab untuk tandatandabunyi Harakat. Ditemukannya makam Maulana Malik Ibrahim tahun 1419 di Gresik. Adanya perkampungan Leren/Leran di Giri daerah Gresik. Leren adalah namasalah satu Pendukung teori ini yaitu Umar Amir Husen dan P.A. Hussein Jayadiningrat.

Ketiga teori tersebut, pada dasarnya masing-masing memiliki kebenaran dankelemahannya.Maka itu berdasarkan teori tersebut dapatlah disimpulkan bahwaIslammasuk ke Indonesia dengan jalan damai pada abad ke – 7 dan mengalamiperkembangannya pada abad 13.Sebagai pemegang peranan dalam penyebaranIslamadalah bangsa Arab, bangsa Persia dan Gujarat (India).

    3) Proses Penyebaran Islam di Indonesia

Pada tahun 1345 dan 1346 M Musafir Maroko Ibnu Batuta, melewati Samudra dalam perjalanannnya ke dan dari Cina mendapati penguasanya adalah pengikut mazhab fikih Syafi’I, hal ini menandakan bahwa mazhab-mazhab yang kelak mendominasi Indonesia sudah ada sejak awal, dan tidak menutup kemungkinan ketiga mazhab Sunni lainnya (Hanafi,Maliki dan Hanbali) juga sudah ada pada masa itu. Di akhir abad XIV menurut M.C. Ricklefs penyebaran Islam terus berlangsung dengan ditemukannya dua buah batu nisan dari Minye Tujoh di Sumatera Utara yang memmbuktikan adanya peralihan budaya disana, kedua batu itu ada yang bertuliskan bahasa arab dan Melayu dengan huruf Sumatera Kuno tetapi tetap memuat tentang Islam.Tahun yang tertera pada prasasti tersebut berbeda antara satu dengan yang lainnya, (781H dan 791H/ 1830 dan 1389M) yang sama-sama menunjukkan tahun kematian seorang putri almarhum Sultan Malik as-Zahir.

Proses penyebaran Islam di Indonesia atau proses Islamisasi tidak terlepas dariperanan para pedagang, mubaliqh/ulama, raja, bangsawan atau para adipati. Di pulau Jawa, peranan mubaliqh dan ulama tergabung dalam kelompok para wali yang dikenal dengan sebutan Walisongo atau wali sembilan yang terdiri dari:

1. Maulana Malik Ibrahim dikenal dengan nama Syeikh Maghribi menyebarkan Islamdi Jawa Timur.

2. Sunan Ampel dengan nama asli Raden Rahmat menyebarkan Islam di daerah Ampel Surabaya.

3. Sunan Bonang adalah putra Sunan Ampel memiliki nama asli Maulana Makdum

Ibrahim, menyebarkan Islam di Bonang (Tuban).

4. Sunan Drajat juga putra dari Sunan Ampel nama aslinya adalah Syarifuddin,

menyebarkan Islam di daerah Gresik/Sedayu.

5. Sunan Giri nama aslinya Raden Paku menyebarkan Islam di daerah Bukit Giri

(Gresik)

6. Sunan Kudus nama aslinya Syeikh Ja’far Shodik menyebarkan ajaran Islam di

daerah Kudus.

7. Sunan Kalijaga nama aslinya Raden Mas Syahid atau R. Setya menyebarkan

ajaran Islam di daerah Demak.

8. Sunan Muria adalah putra Sunan Kalijaga nama aslinya Raden Umar Syaid

menyebarkan islamnya di daerah Gunung Muria.

9. Sunan Gunung Jati nama aslinya Syarif Hidayatullah, menyebarkan Islam di

Jawa Barat (Cirebon)

Demikian sembilan wali yang sangat terkenal di pulau Jawa, Masyarakat Jawa sebagian memandang para wali memiliki kesempurnaan hidup dan selalu dekatdengan Allah, sehingga dikenal dengan sebutan Waliullah yang artinya orang yang dikasihi Allah.

  4)  Munculnya Kerajaan-Kerajaan Islam

   a. Kerajaan Perlak

Perlak adalah kerajaan Islam tertua di Indonesia. Perlak adalah sebuah kerajaan dengan masa pemerintahan cukup panjang. Kerajaan yang berdiri pada tahun 840 ini berakhir pada tahun 1292 karena bergabung dengan Kerajaan Samudra Pasai. Sejak berdiri sampai bergabungnya Perlak dengan Samudrar Pasai, terdapat 19 orang raja yang memerintah. Raja yang pertama ialah Sultan Alaidin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah (225 – 249 H / 840 – 964 M). Sultan bernama asli Saiyid Abdul Aziz pada tanggal 1 Muhharam 225 H dinobatkan menjadi Sultan Kerajaan Perlak. Setelah pengangkatan ini, Bandar Perlak diubah menjadi Bandar Khalifah.

Kerajaan ini mengalami masa jaya pada masa pemerintahan Sultan Makhdum Alaidin Malik Muhammad Amin Syah II Johan Berdaulat (622-662 H/1225-1263 M). Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Perlak mengalami kemajuan pesat terutama dalam bidang pendidikan Islam dan perluasan dakwah Islamiah. Sultan mengawinkan dua putrinya: Putri Ganggang Sari (Putri Raihani) dengan Sultan Malikul Saleh dari Samudra Pasai serta Putri Ratna Kumala dengan Raja Tumasik (Singapura sekarang). Perkawinan ini dengan parameswara Iskandar Syah yang kemudian bergelar Sultan Muhammad Syah. Sultan Makhdum Alaidin Malik Muhammad Amin Syah II Johan Berdaulat kemudian digantikan oleh Sultan Makhdum Alaidin Malik Abdul Aziz Syah Johan Berdaulat (662-692 H/1263-1292 M). Inilah sultan terakhir Perlak. Setelah beliau wafat, Perlak disatukan dengan Kerajaan Samudra Pasai dengan raja Muhammad Malikul Dhahir yang adalah Putra Sultan Malikul Saleh dengan Putri Ganggang Sari. Perlak merupakan kerajaan yang sudah maju. Hal ini terlihat dari adanya mata uang sendiri. Mata uang Perlak yang ditemukan terbuat dari emas (dirham), dari perak (kupang), dan dari tembaga atau kuningan.

b. Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan ini didirikan oleh Sultan Malik Al-saleh dan sekaligus sebagai raja pertama pada abad ke-13. Kerajaan Samudera Pasai terletak di sebelah utara Perlak di daerah Lhokseumawe sekarang (pantai timur Aceh). Sebagai sebuah kerajaan, raja silih berganti memerintah di Samudra Pasai. Raja-raja yang pernah memerintah Samudra Pasai adalah seperti berikut.

(1) Sultan Malik Al-saleh berusaha meletakkan dasar-dasar kekuasaan Islam dan berusaha mengembangkan kerajaannya antara lain melalui perdagangan dan memperkuat angkatan perang. Samudra Pasai berkembang menjadi negara maritim yang kuat di Selat Malaka.

(2) Sultan Muhammad (Sultan Malik al Tahir I) yang memerintah sejak 1297-1326. Pada masa pemerintahannya Kerajaan Perlak kemudian disatukan dengan Kerajaan Samudra Pasai.

(3) Sultan Malik al Tahir II (1326 – 1348 M). Raja yang bernama asli Ahmad ini sangat teguh memegang ajaran Islam dan aktif menyiarkan Islam ke negeri-negeri sekitarnya. Akibatnya, Samudra Pasai berkembang sebagai pusat penyebaran Islam. Pada masa pemerintahannya, Samudra Pasai memiliki armada laut yang kuat sehingga para pedagang merasa aman singgah dan berdagang di sekitar Samudra Pasai. Namun, setelah muncul Kerajaan Malaka, Samudra Pasai mulai memudar. Pada tahun 1522 Samudra Pasai diduduki oleh Portugis. Keberadaan Samudra Pasai sebagai kerajaan maritim digantikan oleh Kerajaan Aceh yang muncul kemudian.

Catatan lain mengenai kerajaan ini dapat diketahui dari tulisan Ibnu Battuta, seorang pengelana dari Maroko. Menurut Battuta, pada tahun 1345, Samudera Pasai merupakan kerajaan dagang yang makmur. Banyak pedagang dari Jawa, Cina, dan India yang datang ke sana. Hal ini mengingat letak Samudera Pasai yang strategis di Selat Malaka. Mata uangnya uang emas yang disebur dirham.

Di bidang agama, Samudera Pasai menjadi pusat studi Islam. Kerajaan ini menyiarkan Islam sampai ke Minangkabau, Jambi, Malaka, Jawa, bahkan ke Thailand. Dari Kerajaan Samudra Pasai inilah kader-kader Islam dipersiapkan untuk mengembangkan Islam ke berbagai daerah. Salah satunya ialah Fatahillah. Ia adalah putra Pasai yang kemudian menjadi panglima di Demak kemudian menjadi penguasa di Banten.

c. Kerajaan Aceh

Kerajaan Islam berikutnya di Sumatra ialah Kerajaan Aceh. Kerajaan yang didirikan oleh Sultan Ibrahim yang bergelar Ali Mughayat Syah (1514-1528), menjadi penting karena mundurnya Kerajaan Samudera Pasai dan berkembangnya Kerajaan Malaka. Para pedagang kemudian lebih sering datang ke Aceh. Pusat pemerintahan Kerajaan Aceh ada di Kutaraja (Banda Acah sekarang). Corak pemerintahan di Aceh terdiri atas dua sistem pemerintahan sipil di bawah kaum bangsawan, disebut golongan teuku; dan pemerintahan atas dasar agama di bawah kaum ulama, disebut golongan tengku atau teungku.

Sebagai sebuah kerajaan, Aceh mengalami masa maju dan mundur. Aceh mengalami kemajuan pesat pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607- 1636). Pada masa pemerintahannya, Aceh mencapai zaman keemasan. Aceh bahkan dapat menguasai Johor, Pahang, Kedah, Perak di Semenanjung Melayu dan Indragiri, Pulau Bintan, dan Nias. Di samping itu, Iskandar Muda juga menyusun undang-undang tata pemerintahan yang disebut Adat Mahkota Alam. Setelah Sultan Iskandar Muda, tidak ada lagi sultan yang mampu mengendalikan Aceh. Aceh mengalami kemunduran di bawah pimpinan Sultan Iskandar Thani (1636- 1641). Dia kemudian digantikan oleh permaisurinya, Putri Sri Alam Permaisuri (1641- 1675). Sejarah mencatat Aceh makin hari makin lemah akibat pertikaian antara golongan teuku dan teungku, serta antara golongan aliran syiah dan sunnah sal jama’ah. Akhirnya, Belanda berhasil menguasai Aceh pada tahun 1904.

Dalam bidang sosial, letaknya yang strategis di titik sentral jalur perdagangan internasional di Selat Malaka menjadikan Aceh makin ramai dikunjungi pedangang Islam. Terjadilah asimilasi baik di bidang sosial maupun ekonomi. Dalam kehidupan bermasyarakat, terjadi perpaduan antara adat istiadat dan ajaran agama Islam. Pada sekitar abad ke-16 dan 17 terdapat empat orang ahli tasawuf di Aceh, yaitu Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumtrani, Nuruddin ar-Raniri, dan Abdurrauf dari Singkil. Keempat ulama ini sangat berpengaruh bukan hanya di Aceh tetapi juga sampai ke Jawa.

Dalam kehidupan ekonomi, Aceh berkembang dengan pesat pada masa kejayaannya. Dengan menguasai daerah pantai barat dan timur Sumatra, Aceh menjadi kerajaan yang kaya akan sumber daya alam, seperti beras, emas, perak dan timah serta rempah-rempah.

BAB 111

PENUTUP

Kesimpulan

Berbeda dengan masuknya Islam ke negara-negara di bagian dunia lainnya yakni dengan kekuatan militer, masuknya Islam ke Indonesia dengan cara damai disertai dengan jiwa toleransi dan saling menghargai antara penyebar dan pemeluk agama baru (Islam) dengan penganut-penganut agama lama (Hindu-Budha). Islam di Indonesia dibawa oleh pedagang Arab, Gujarat dan Persia yang tertarik dengan rempah-rempah. Sambil berdagang mereka juga membawa dan menyebarkan ajaran agama Islam. Pada awalnya, agama Islam berkembang di daerah pesisir, yang selanjutnya menyebar ke daerah-daerah pedalaman. Memang sangat sulit menentukan secara pasti pada tahun berapa dan berasal dari negara mana pertama kali Islam masuk ke Indonesia, tetapi kebanyakan para sejarawan berpendapat Islam pertama kali masuk pada abad pertama Hijriah atau abad ketujuh Masehi. Pendapat ini didasarkan pada penemuan batu nisan wanita muslimah yang bernama Fatimah binti Maimun  di Leran (Gresik) yang bertahun 475 H atau 1082 M. Kedatangan Islam ke berbagai daerah di Indonesia yang tidak bersamaan membuat para peniliti sejarah sulit menentukan periodisasi sejarah Islam di Indonesia. Mereka juga sulit menentukan pembabakan sejarah  Islam yang ada di Indonesia karena wilayahnya cukup luas sehingga perkembangan sejarah antara satu daerah dengan daerah yang lain berbeda-beda. Maka tidaklah aneh apabila para peneliti sejarah Islam dalam karya sejarahnya mengemukakan pendapat yang kadang saling berseberangan satu sama lain.

Saran

Sebagai seorang muslim Indonesia sudah seyogyanya kita mengetahui lebih dalam mengenai sejarah Islam yang  ada di Indonesia dengan cara terus mengkaji sumber-sumber sejarah yang sudah ada maupun dengan mencari dan meneliti sumber-sumber sejarah yang belum ditemukan dan marilah kita menjaga islam ini agar tidak terpecah belah.

DAFTAR PUSTAKA

 

Hakim, Nur. 2004. Sejarah dan Peradaban Islam. Malang: UMM Press

Hamka, 1990. Sejarah Umat Islam. Jakarta: Pustaka Panjimas

Pradito, Aryo. 2002. Sejarah: Untuk Siswa SMA Kelas X Semerter Genap. Klaten: CV Viva Pakarindo

Yatim, Badri. 2008.   Sejarah Peradaban Islam: Dirasah II.Jakarta: Rajawali

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: